A.
Pengerian
Validitas
Validitas merupakan salah satu
syarat penting dalam penyusunan test. Sebelum menggunakan suatu tes, hendaknya
mengukur terlebih dahulu derajat validitasnya berdasarkan kriteria tertentu.
Dengan demikian, untuk melihat apakah tes tersebut valid (sahih), harus
membandingkan skor peserta didik yang didapat dalam tes dengan skor yang
dianggap sebagai nilai baku. Misalnya, nilai ujian akhir semester peserta didik
dalam salah satu mata pelajaran dibandingkan dengan nilai ujian akhir semester
pada mata pelajaran yang lain. Semakin mendekati kedua skor tersebut, maka
semakin soal ujian akhir tadi dapat dikatakan valid. Validitas suatu tes erat
kaitannya dengan tujuan penggunaan tes tersebut. Namun demikian, tidak ada
validitas yang berlaku secara umum. Artinya, jika suatu tes dapat memberikan
informasi yang sesuai dan dapat digunakan untuk mencapai tujuan tertentu, maka
tes itu valid untuk tujuan tersebut.
Validitas berasal dari kata validity
yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam
melakukan fungsi ukurnya.
Suatu skala atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila instrumen tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Sedangkan tes yang memiliki validitas rendah akan menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan pengukuran.
Suatu skala atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila instrumen tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Sedangkan tes yang memiliki validitas rendah akan menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan pengukuran.
Seberapa jauh tes mengukur apa yang
hendak diukur disebut validitas. Adapun fungsi validitas ini adalah menerangkan
atribut, konstruk, aspek faktor, apa yang diukur dan seberapa jauh hal itu
diukur. Alat-alat ukur dibidang pendidikan dan pisikologi dirancang untuk
menaksir konstruk seperti prestasi belajar, kecerdasan, kreativitas, bakat,
sikap,motivasi dan sebagainya. Akan tetapi tidak ada alat yang langsung dapat
mengukur konstruk tersebut seperti yang dipakai pada ilmu pengetahuan alam
untuk mengukur ciri-ciri seperti panjang, besar dan berat. Para peneliti harus
mengembangkan cara-cara tidak langsung untuk mengukur atribut-atribut yang
kompleks tersebut.
B.
Faktor-Faktor
Validitas
Ada dua unsur penting dalam
validitas ini. Pertama, validitas menunjukkan suatu derajat, ada yang
sempurna, ada yang sedang, dan ada pula yang rendah. Kedua, validitas
selalu dihubungkan dengan suatu putusan atau tujuan yang spesifik. Sebagaimana
pendapat R.L. Thorndike dan H.P. Hagen (1977: 56) bahwa “validity is always
in relation to a specific decision or use”. Sementara itu, Gronlund (1985 :
79-81) mengemukan ada tiga faktor yang mempengaruhi validitas hasil tes, yaitu
“faktor instrumen evaluasi, faktor administrasi evaluasi dan penskoran, dan
faktor dari jawaban peserta didik”.
1.
Faktor
instrumen evaluasi
Mengembangkan instrumen evaluasi
memang tidaklah mudah, apalagi jika seorang evaluator tidak atau kurang
memahami prosedur dan teknik evaluasi itu sendiri. Jika instrumen evaluasi
kurang baik, maka dapat berakibat hasil evaluasi menjadi kurang baik. Untuk
itu, dalam mengembangkan instrumen evaluasi, seorang evaluator harus
memperhatikan hal-hal yang mempengaruhi validitas instrumen dan berkaitan dengan
prosedur penyusunan instrumen, seperti silabus, kisi-kisi soal, petunjuk
mengerjakan soal dan pengisian lembar jawaban, kunci jawaban, penggunaan
kalimat efektif, bentuk alternatif jawaban, tingkat kesukaran, daya pembeda,
dan sebagainya.
2.
Faktor administrasi
evaluasi dan penskoran
Dalam administrasi evaluasi dan
penskoran, banyak sekali terjadi penyimpangan atau kekeliruan, seperti :
alokasi waktu untuk pengerjaan soal yang tidak proporsional, memberikan bantuan
kepada peserta didik dengan berbagai cara, peserta didik saling menyontek
ketika ujian, kesalahan penskoran, termasuk kondisi fisik dan psikis peserta
didik yang kurang menguntungkan.
3.
Faktor jawaban
dari peserta didik
Dalam praktiknya, faktor jawaban
peserta didik justru lebih banyak berpengaruh daripada dua faktor sebelumnya.
Faktor ini meliputi kecenderungan peserta didik untuk menjawab secara cepat
tetapi tidak tepat, keinginan melakukan coba-coba, dan penggunaan gaya bahasa
tertentu dalam menjawab soal bentuk uraian.
Selanjutnya, Kerlinger (1986)
mengemukakan “validitas instrumen tidak cukup ditentukan oleh derajat ketepatan
instrumen untuk mengukur apa yang seharusnya diukur, tetapi perlu juga dilihat
dari tiga kriteria yang lain, yaitu appropriatness, meaningfullness, dan
usefullness”. Appropriatness menunjukkan kelayakan dari tes
sebagai suatu instrumen, yaitu seberapa jauh instrumen dapat menjangkau
keragaman aspek perilaku peserta didik. Meaningfullness menunjukkan
kemampuan instrumen dalam memberikan keseimbangan soal-soal pengukurannya
berdasar tingkat kepentingan dari setiap fenomena. Usefullness to inferences
menunjukkan sensitif tidaknya instrumen dalam menangkap fenomena perilaku
dan tingkat ketelitian yang ditunjukkan dalam membuat kesimpulan.
C.
Jenis-Jenis
Validitas
Dalam literatur modern tentang
evaluasi, banyak dikemukakan tentang jenis-jenis validitas, antara lain :
validitas permukaan (face validity), validitas isi (content validity),
validitas empiris (empirical validity), dan validitas konstruk (construct
validity), dan validitas faktor (factorial validity).
1.
Validitas
permukaan
Validitas ini menggunakan kriteria
yang sangat sederhana, karena hanya melihat dari sisi muka atau tampang dari
instrumen itu sendiri. Artinya, jika suatu tes secara sepintas telah dianggap
baik untuk mengungkap fenomena yang akan diukur, maka tes tersebut sudah dapat
dikatakan memenuhi syarat validitas permukaan, sehingga tidak perlu lagi adanya
judgement yang mendalam.
2.
Validitas isi
Validitas isi sering digunakan dalam
pengukuran hasil belajar. Tujuan utamanya adalah untuk mengetahui hinggamana
peserta didik menguasai materi pelajaran yang telah disampaikan, dan
perubahan-perubahan psikologis apa yang timbul pada diri peserta didik tersebut
setelah mengalami proses pembelajaran tertentu. Jika dilihat dari segi
kegunaannya dalam penilaian hasil belajar, validitas isi ini sering disebut
juga validitas kurikuler dan validitas perumusan.
Validitas kurikuler berkenaan dengan
pertanyaan apakah materi tes relevan dengan kurikulum yang sudah ditentukan.
Pertanyaan ini timbul karena sering terjadi materi tes tidak mencakup
keseluruhan aspek-aspek 316 yang akan diukur, baik aspek kognitif, afektif,
maupun psikomotorik, tetapi hanya pengetahuan yang bersifat fakta-fakta
pelajaran tertentu. Diharapkan dengan validitas kurikuler ini timbul ketelitian
yang jelas dan totalitas dengan menjelajahi semua aspek yang tercakup dalam
kisi-kisi dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang bersangkutan.
Validitas kurikuler ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain
mencocokkan materi tes dengan silabus dan kisi-kisi, melakukan diskusi dengan
sesama pendidik, atau mencermati kembali substansi dari konsep yang akan
diukur.
Validitas perumusan berkenaan dengan
pertanyaan apakah aspek-aspek dalam soal-soal itu betul-betul tercakup dalam
perumusan tentang apa yang hendak diukur. Di samping itu, validitas isi dapat
juga disebut validitas rasional atau validitas logis. Sebagaimana dikemukakan
oleh R.L. Thorndike dan H.P. Hagen (1977: 58) bahwa “scientific analysis is
essentially a rational and judgmental one, this is sometimes spoken of as
rational or logical validity”. Pernyataan ini memang ada benarnya, karena
pengujian validitas harus dilakukan secara rasional dan logis, sehingga suatu
tes hasil belajar dapat memiliki validitas yang sempurna.
3.
Validitas
empiris
Validitas ini biasanya menggunakan
teknik statistik, yaitu analisis korelasi. Hal ini disebabkan validitas empiris
mencari hubungan antara skor tes dengan suatu kriteria tertentu yang merupakan
suatu tolok ukur di luar tes yang bersangkutan. Namun, kriteria itu harus
relevan dengan apa yang akan diukur. Validitas empiris disebut juga validitas
yang dihubungkan dengan kriteria (criterion-related validity) atau
validitas statistik (statistical validity). Ada tiga macam validitas
empiris, yaitu:
a.
Validitas
prediktif (predictive validity)
b.
Validitas
kongkuren (concurrent validity)
c.
Validitas
sejenis (congruent validity)
Validitas prediktif ialah jika
kriteria standar yang digunakan adalah untuk meramalkan prestasi belajar murid
di masa yang akan datang. Dengan kata lain, validitas prediktif bermaksud
melihat hinggamana suatu tes dapat memprakirakan perilaku peserta didik pada
masa yang akan datang. Sedangkan validitas konkuren ialah jika kriteria
standarnya berlainan. Misalnya, skor tes dalam matapelajaran Al-Qur’an-Hadits
dikorelasikan dengan skor tes Bahasa Arab. Sebaliknya, jika kriteria standarnya
sejenis, maka validitas tersebut disebut validitas sejenis. Misalnya, Bahasa
Arab dengan Bahasa Arab.
Dalam mengukur validitas suatu tes
hendaknya yang menjadi kriteria sudah betul-betul valid, sehingga dapat
diandalkan keampuhannya dan dapat dianggap sebagai tes standar. Sebaliknya,
bila kriterianya tidak valid, maka tes-tes lain yang akan divalidasi menjadi
kurang atau tidak meyakinkan. Suatu tes akan mempunyai koefisien validitas yang
tinggi jika tes itu betul-betul dapat mengukur apa yang hendak diukur dari
peserta didik tertentu.
Ada beberapa hal yang harus
diperhatikan dalam menginterpretasikan koefisien validitas, antara lain data
mengenai karakteritik sampel validitas, prosedur-prosedur dalam pengukuran
validitas, dan pola kriteria khusus yang dikorelasikan dengan hasil tes itu.
Sehubungan dengan kriteria khusus, Anastasi dalam Conny Semiawan Stamboel (1986
: 50), mengemukakan ada delapan kriteria sebagai bahan bandingan untuk
merumuskan apa yang hendak diselidiki oleh suatu tes, yaitu “diferensiasi umur,
kemajuan akademis, kriteria dalam pelaksanaan latihan khusus, kriteria dalam
pelaksanaan kerja, penilaian, kelompok yang dipertentangkan, korelasi dengan
tes lain, dan konsistensi internal”.
a.
Diferensiasi
umur
Kriteria yang paling utama dalam
validitas tes intelegensi adalah umur. Kebanyakan tes intelegensi, baik yang
dipakai di madrasah maupun tes pra-madrasah, senantiasa dibandingkan dengan
umur kronologis untuk menentukan apakah angka bertambah dengan bertambahnya
umur. Jika suatu tes dianggap valid, maka nilai tes bagi peserta didik akan
naik dengan bertambahnya umur. Namun, anggapan ini tidak berlaku bagi
perkembangan semua fungsi dalam hubungannya dengan bertambahnya umur secara
konsisten (ini terbukti dari beberapa tes kepribadian). Suatu hal yang juga
perlu dicermati adalah corak kondisi lingkungan tempat tes itu dibakukan.
Kriteria peningkatan umur tidak bersifat universal tetapi tidak dapat juga
dikatakan bahwa ini berlaku bagi corak masing-masing kebudayaan.
b.
Kemajuan
akademis
Pada umumnya tes intelegensi
divalidkan dengan kemajuan akademis. Juga sering dikatakan bahwa makin lama
seseorang belajar di madrasah, makin tinggi pendidikannya, makin tinggi pula
kemajuan akademisnya. Padahal, setiap jenis dan jenjang pendidikan itu bersifat
selektif. Bagi peserta didik yang tak sanggup meneruskan, biasanya termasuk dropout.
Namun demikian, banyak pula faktor non-intelektual yang ikut mempengaruhi
keberhasilan pendidikan seorang peserta didik. Dengan kata lain, berhasil
tidaknya pendidikan seseorang tidak hanya dilihat dari faktor intelektual
tetapi juga faktor non-intelektual. Untuk memperoleh gambaran yang komprehensif
dan holistik tentang hal ini perlu diadakan penyelidikan yang lebih jauh.
c.
Kriteria dalam
pelaksanaan latihan khusus
Corak kriteria dalam pengembangan
tes bakat khusus didasarkan atas prestasi dalam latihan tertentu secara khusus.
Beberapa tes bakat profesi (profesional aptitude test) telah divalidkan
dengan tes hasil belajar dalam bidang-bidang tersebut. Misalnya, tes untuk
memasuki profesi kedokteran, hukum, dan sebagainya. Ada beberapa tes untuk
memasuki profesi tertentu yang disebut tailor-made test, yaitu tes yang
telah dibuat khusus untuk keperluan tersebut, seperti tes penerbangan.
d.
Kriteria dalam
pelaksanaan kerja
Dalam validitas tes kepribadian dan
validitas tes bakat khusus banyak digunakan kriteria yang didasarkan atas
kinerja dalam pelaksanaan kerja (on the job performance). Mengingat
masing-masing pekerjaan memiliki kekhasan sendiri dan berbeda-beda tingkat,
bentuk, maupun coraknya, maka untuk masing-masing pekerjaan diciptakan tes yang
terkenal dengan istilah tailor-made test.
e.
Penilaian
Pengertian penilaian disini adalah
teknik untuk memperoleh informasi tentang kemajuan belajar peserta didik di
madrasah. Selain itu, juga mencakup pekerjaan yang memerlukan latihan khusus
ataupun sukses dalam penilaian pribadi oleh seorang pengamat terhadap berbagai
fungsi psikologis. Misalnya, kondisi-kondisi, orijinalitas, kepemimpinan, atau
kejujuran. Jika kondisi-kondisi pengenalan dalam situasi tempat kemampuan yang
khusus itu dinyatakan, maka perlu disertai skala penilaian yang dipersiapkan
secara teliti.
f.
Kelompok yang
dipertentangkan
Konsep validitas melalui kelompok
yang dipertentangkan menyelidiki pengaruh kehidupan sehari-hari yang tak
disengaja. Kriteria ini didasarkan atas kelebihan suatu kelompok tertentu
dihadapkan kepada kelompok yang lain dalam mejalankan suatu tes tertentu.
Misalnya, suatu tes bakat musik dicobakan dalam suatu sekolah musik maupun
dalam suatu madrasah. Kriteria itu didasarkan atas faktor yang menyolok, yang
diperoleh dari hasil nilai kedua kelompok tersebut dalam menjalankan tes itu.
g.
Korelasi dengan
tes lain
Korelasi antara
tes baru dengan tes lama merupakan perbandingan kriteria dalam menyelidiki
perilaku yang sama. Dalam hal ini suatu tes verbal tertulis bisa dibandingkan
dengan tes individual atau tes kelompok. Untuk mengukur apakah suatu tes yang
baru memiliki validitas dan bebas dari pengaruh faktor lain, maka dipergunakan
tes jenis lain dalam membandingkannya. Jadi, kadang-kadang tes kepribadian
dikorelasikan dengan tes internal atau tes hasil belajar.
h.
Konsistensi
internal
Kriteria
konsistensi internal adalah skor total yang diperoleh peserta didik dalam suatu
tes. Kriteria ini terutama digunakan dalam bidang tes kepribadian.
Kadang-kadang untuk keperluan ini juga digunakan percobaan tes dengan dua
kelompok, yaitu antara kelompok berhasil dan kelompok kurang berhasil. Skor
setiap soal tes dari kelompok yang berhasil dibandingkan dengan skor setiap
soal tes dari kelompok yang kurang berhasil. Soal-soal yang gagal menunjukkan
perbedaan antara kelompok yang berhasil dengan kelompok yang kurang berhasil
harus diperbaiki, atau dibuang. Kriteria konsistensi internal ini menghasilkan
indeks homoginitas soal, tetapi tidak dapat dianggap sepenuhnya sebagai
pengganti validitas.
4.
Validitas
konstruk
Konstruk adalah konsep yang dapat
diobservasi (observable) dan dapat diukur (measurable). Validitas
konstruk sering juga disebut validitas logis (logical validity).
Validitas konstruk berkenaan dengan pertanyaan hinggamana suatu tes betul-betul
dapat mengobservasi dan mengukur fungsi psikologis yang merupakan deskripsi
perilaku peserta didik yang akan diukur oleh tes tersebut. Validitas konstruk
banyak dikenal dan digunakan dalam tes-tes psikologis untuk mengukur gejala
perilaku yang abstrak, seperti kesetiakawanan, kematangan emosi, sikap,
motivasi, minat, dan sebagainya.
Untuk menguji validitas konstruk
dapat dilakukan dengan berbagai sumber, antara lain validitas isi, validitas
prediktif, dan validitas konkuren. N.E. Gronlund (1985) mengemukakan “It is
a matter of accumulating evidence from many different sources. We may use
content validity, predictive validity, and concurrent validity as partial
evidence to support construct validity, but none of them alone is sufficient”. Analisis
statistika yang digunakan dalam validitas konstruk antara lain dengan analisis
faktor (factor analysis), sehingga dapat diketahui :
a.
Aspek-aspek apa
saja yang diukur oleh setiap butir soal.
b.
Berapa besar
suatu butir soal berisi faktor-faktor tertentu.
c.
Faktor-faktor
apa yang diukur oleh suatu butir soal.
Produk analisis faktor ini dapat
menganalisis dan mempertimbangkan apakah suatu tes betul-betul dapat mengukur
fungsi psikologis yang merupakan deskripsi perilaku peserta didik yang hendak
diukur oleh tes yang bersangkutan.
5.
Validitas
faktor
Dalam evaluasi atau penilaian sering
digunakan skala pengukuran tentang suatu variabel yang terdiri atas beberapa
faktor. Faktor-faktor tersebut diperoleh berdasarkan dimensi/indikator dari
variabel yang diukur sesuai dengan apa yang terungkap dalam konstruksi
teoritisnya. Meskipun variabel terdiri atas beberapa faktor, tetapi prinsip
homoginitas untuk keseluruhan faktor harus tetap dipertahankan, sehingga tidak
terjadi tumpang tindih antara satu faktor dengan faktor yang lain. Dengan demikian,
kriterium yang digunakan dalam validitas faktor ini dapat diketahui dengan
menghitung homoginitas skor setiap faktor dengan total skor, dan antara skor
dari faktor yang satu dengan skor dari faktor yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zaenal. (2012). Evaluasi Pembelajaran. Direktorat
Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama: Jakarta.
Arikunto, Suharsimi. (2009).
Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Matondang, Zulkifli. (2009). Evaluasi Pembelajaran.
Medan: Program Pascasarjana Universitas Negeri Medan
Sudijono, Anas. (2006). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
RSS Feed
Twitter
21.27
Unknown