Rabu, 01 April 2015



Karakteristik Tes Pengukuran dan Evaluasi

Untuk mendapatkan tes, pengukuran dan evaluasi  yang baik terdapat beberapa karakteristik. Sudijono (2006: 93) menjelaskan bahwa untuk mendapatkan tes yang baik harus memiliki karakteristik diantaranta (1) valid, (2) reliabel, (3) obyektif, (4) praktis. Pendapat di atas juda diperkuat oleh Matondang (2009: 27) suatu alat ukur yang memenuhi syarat baik sebagai alat ukur adalah sebagai berikut : (1)  harus efisien, parsimory (hemat), (2) harus baku (standardize), (3)  mempunyai norma, (4) objektif, (5) valid, dan (6) reliabel. Berdasarkan isi kedua pendapat tersebut dapat diperoleh karakteristik tes, pengukuran dan evaluasi sebagai berikut :

A.    Validitas

Sebuah tes, pengukuran dan evaluasi yang baik harus mempunyai sifat valid atau memiliki validitas. Pengertian valid sendiri menurut Sudijono (2006: 93) kata “Valid”sering diartikan dengan: tepat, benar shahib, absah; jadi kata validitas dapat diartikan dengan ketepatan, kebenaran keshahihan atau keabsahan. Apabila kata valid itu dikaitkan dengan fungsi tes, sebagai alat ukur maka sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut dengan secara tepat, secara benar , secara shahih atau secara absah dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Sebuah data atau informasi yang valid apabila sesuai dengan keadaan senyatanya. Contohnya informasi tentang seseorang yang bernama A menyebutkan bahwa si A pendek karena tingginya tidak lebih dari 140 CM. Data tentang A ini dikatakan valid apabila memang sesuai denga kenyataan, yakni bahwa tinggi A kurang dari 140 CM.

B.     Realibilitas

Untuk mendapatkan tes, pengukuran dan evaluasi yang baik salah satunya tes telah memiliki reliabilitas atau bersifat reliabel. Menurut Sudijono (2006: 95) kata “ reliabilitas” sering diterjemahkan dengan keajegkan (= stability) atau kemantapan (=consistency). Pendapat di atas juga sejalan dengan yang diungkapkan oleh Arifin (2012: 64) Reliabel, artinya suatu alat ukur dapat dikatakan reliabel atau handal jika ia mempunyai hasil yang taat asas (consistent). Apabila kata tersebut dikaitkan dengan fungsi tes, pengukuran dan evaluasi  sebagai alat ukur maka dapat dikatakan reliabel apabila hasil-hasil pengukuran yang dihasilkan dengan menggunakan tes, pengukuran dan evaluasi tersebut secara berulang kali terhadap subyek yang sama, senantiasa menunjukkan hasil yang sama atau sifatnya ajeg atau stabil.

C.    Objektifitas

Ciri yang ketiga dari dari tes, pengukuran dan evaluasi yaitu memiliki sifat objektif. Dikatakan objektif menurut Sudijono (2006: 96)  yaitu dalam penyusunanya dapat dilaksanakan menurut apa adanya. Objektivitas berarti tidak adanya unsur pribadi yang mempengaruhi. Lawan kata dari objektif adalah subjektif, artinya terdapat unsur pribadi yang memperngaruhi. Sebuah tes, pengukuran dan evaluasi dikatakan memiliki objektivitas apabila dalam pelaksanaanya tidak ada faktor subjektif yang mempengaruhi. Penilaian yang bersifat objektif tidak memandang dan membeda-bedakan latar belakang peserta didik, namun melihat kompetensi yang dihasilkan oleh peserta didik tersebut, bukan atas dasar siapa.

D.    Ekonomis

Pelaksanaan tes, pengukuran dan evaluasi tidak membutuhkan biaya yang mahal tenaga yang banyak dan waktu yang lama. Dalam penyusunan maupun pelaksanaan tes, pengukuran dan evaluasi hendaknya memperhatikan biaya, tenaga dan waktu yang diperlukan. Ekonomis inilah yang menjadi faktor supanya tes mudah dilaksanakan.

E.     Praktibilitas

Sebuah tes, pengukuran dan evaluasi dikatakan memiliki praktikabilitas yang tinggi apabila bersifat praktis mudah pengadministrasiannya dan memiliki ciri mudah dilaksanakan. Menurut Matondang (2009: 27) Jika alat ukur itu sudah memenuhi syarat tetapi sukar digunakan, berarti tidak praktis. Kepraktisan ini bukan hanya dilihat dari pembuat alat ukur (guru), tetapi juga bagi orang lain yang ingin menggunakan alat ukur tersebut.

F.     Ada Petunjuk Pelaksanaan

Dalam penyusunan tes, pengukuran dan evaluasi tentunya diharapkan untuk memudahkan penggunaanya, baik untuk diri sendiri orang lain yang menggunakan maupun objek yang akan dipergunakan. Maka diperlukan petunjuk pelaksanaan guna mempermudah tes, pengukuran maupun evaluasi. Tes, pengukuran dan evaluasi tersebut telah dilengkapi dengan  petunjuk mengenai bagaimana cara mengerjakannya, kunci jawabannya dan pedoman  scoring serta penentuan nilainya. Petunjuk pelaksanaan tidah hanya ditujukan kepada siswa yang mau melaksanakan tes akantetapi bagaimana tata cara pelaksanaan tes dapat dimengerti dan dilaksanakan dengan baik oleh orang lain yang akan melaksanakan tes tersebut.

G.    Mempunyai Norma

Berdasarkan pendapat Matondang (2009: 27) alat ukur harus memiliki norma tertentu agar dapat mengukur objek dengan tepat, misalnya untuk kelompok umum tertentu atau ciri-ciri tertentu yang akan diukur sehingga dapat menggambarkan penilaian dengan lebih objektif. Norma tes, pengukuran dan evaluasi akan menghasilkan hasil yang objektif. Karena apabila pengukuran bersifat subyektif tidak akan menghasilkan suatu tes yang sebenarnya.

H.    Menarik

Karakteristk tes, pengukuran dan Evaluasi yang terakhir yaitu menarik.  Tidak hanya menarik bagi guru yang akan melaksanakan tes, pengukuran dan evaluasi akan tetapi juga menarik untuk para siswa yang mengikuti proses tes, pengukuran dan evaluasi tersebut. Sehingga siswanya nyaman dalam mengikutinya dan disertai dengan rasa senang.


 



 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA



Arifin, Zaenal. (2012). Evaluasi Pembelajaran. Direktorat Jenderal Pendidikan Islam
Kementerian Agama: Jakarta.

Arikunto, Suharsimi. (2009). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi  Aksara.

Matondang, Zulkifli. (2009). Evaluasi Pembelajaran. Medan: Program Pascasarjana Universitas Negeri Medan


Sudijono, Anas. (2006). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.



0 komentar:

Posting Komentar