MODEL
PEMBELAJARAN KOOPERATIF
A.
Pendahuluan
Untuk memaksimalkan
pembelajaran, guru pendidikan jasmani biasanya harus menetapkan struktur tujuan
yang mana yang akan digunakan untuk menghasilkan pencapaian tujuan bagi
sebanyak mungkin siswa. Struktur tujuan adalah cara siswa berinteraksi secara
verbal maupun secara fisik dengan teman sendiri atau dengan guru ketika
terlibat dalam pembelajaran. Keputusan yang baik tentang tujuan mengarah
langsung pada pencapaian hasil pendidikan jasmani, walaupun sering diabaikan
oleh kebanyakan guru penjas.
Pada dasarnya,
terdapat tiga struktur tujuan yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan, yaitu
kompetitif, individual, dan kooperatif. Berikut akan dijelaskan masing-masing
struktur tujuan tersebut.
B.
Devinisi Pembelajaran Kooperatf
Dalam sebuah pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah guru dituntut untuk
mengetahui model-model pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang perlu
diketahui adalah model kooperatif. Pengertian pembelajaran kooperatif menurut Sugiyanto (2010: 37) pembelajaran kooperatif adalah merupakan
pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa
untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran
yang menempatkan siswa
dalam kelompok-kelompok kecil yang
anggotanya bersifat heterogen, terdiri dari siswa dengan prestasi tinggi, sedang, dan
rendah, perempuan dan
laki-laki dengan latar
belakang etnik yang berbeda untuk
saling membantu dan bekerja sama mempelajari materi pelajaran agar belajar
semua anggota maksimal. Berdasarkan uraian di atas, dapat
disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang
mengutamakan pembentukan kelompok yang bertujuan untuk menciptakan pendekatan
pembelajaran yang efektif.
C. Prinsip Dasar Model Pembelajaran
Kooperatif
Prinsip dasar dalam pembelajaran kooperatif sebagai
berikut:
1. Setiap anggota kelompok
bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya dan
berpikir bahwa semua anggota kelompok memiliki tujuan yang sama.
2. Dalam kelompok terdapat
pembagian tugas secara merata dan dilakukan evaluasi setelahnya.
3. Saling membagi
kepemimpinan antar anggota kelompok untuk belajar bersama selama pembelajaran.
4. Setiap anggota kelompok
bertanggungjawab atas semua pekerjaan kelompok.
Ciri-ciri model
pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
1. Siswa dalam kelompok
bekerja sama menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan
dicapai.
2. Kelompok dibentuk secara
heterogen.
3. Penghargaan lebih
diberikan kepada kelompok, bukan kepada individu.
Pada model
pembelajaran kooperatif memang ditonjolkan pada diskusi dan kerjasama dalam
kelompok. Kelompok dibentuk secara heterogen sehingga siswa dapat berkomunikasi,
saling berbagi ilmu, saling menyampaikan pendapat, dan saling menghargai
pendapat teman sekelompoknya.
D.
Struktur Tujuan Kompetitif
Pertandingan regu
dan perlombaan adalah dua contoh dari pembelajaran penjas yang menggunakan
struktur tujuan kompetitif. Aktivitas pertandingan ini biasanya dikategorikan
sebagai format “zero sum” di mana ada satu pemenang dan satu yang kalah, atau
berformat “negative sum” dengan satu pemenang dan banyak yang kalah. Kategori
lain bersifat lomba yang meningkat berkelanjutan (kontinjensi), di mana
kelangsungan keikutsertaan ditentukan oleh keberhasilan yang tidak terputus.
Contoh kategori ini dapat dilihat dalam lomba lompat tinggi, ketika pelompat
yang tidak berhasil melalui ketinggian tertentu harus berhenti atau keluar dari
lomba.
Dalam pembelajaran
yang berstruktur kompetitif, siswa bergantung secara negatif kepada yang lain.
Ketergantungan negatif terjadi ketika keberhasilan seorang siswa atau
sekelompok siswa terkait erat dengan ketidakberhasilan siswa atau sekelompok siswa
lain. Jenis ketergantungan demikian sangat nyata terlihat ketika siswa berlomba
dalam lompat tinggi atau beberapa nomor atletik lainnya. Seorang siswa dapat
melakukan yang terbaik ketika siswa yang lain tidak bisa menjadi yang terbaik.
Beberapa hasil positif
biasanya dipercayai guru dalam penggunaan struktur tujuan tersebut dalam
pendidikan jasmani. Asumsi utamanya menunjuk pada kepercayaan bahwa mahluk
hidup termasuk manusia memang memiliki kecenderungan bawaan untuk berkompetisi.
Dan karenanya, harus belajar berkompetisi agar bisa sukses dalam dunia yang
semakin kompetitif ini. Beberapa ahli umumnya menghubungkan kompetisi dengan
hasil-hasil seperti berikut:
·
Perkembangan
karakter,
·
Peningkatan
self esteem dan self confidence,
·
Motivasi
untuk sukses
·
Pemantapan
keunggulan sebagai tujuan,
·
Mempertahankan
minat keikutsertaan,
·
Rasa
keberhasilan pribadi setelah mengalahkan orang lain,
Cara berpikir
alternatif tentang kompetisi dan pengaruhnya pada pembelajaran timbul ketika
asumsi dan hasil yang berbeda mulai diperhatikan oleh kita. Cukup menarik
menemukan fakta bahwa kebanyakan interaksi harian dalam hidup lebih bersifat
kooperatif, tidak kompetitif. Buktinya kita lebih sering bergantung pada
peranan orang di luar diri kita.
Di samping itu,
kompetisi dengan sifat sangat bergantungnya pada standar (misalnya, peraturan,
atau peralatan), justru menghasilkan situasi yang kurang diharapkan pada banyak
siswa, sebab mereka tidaklah bersifat standar. Tetapi, mereka lebih bersifat
heterogen dalam berbagai hal: kemampuan, minat, pengalaman, dan kematangan.
Dengan kata lain, perbedaan individual siswa tidak sejalan dengan persyaratan
yang dibutuhkan untuk kompetisi.
Akibatnya,
kompetisi dapat menjadi sebuah pengalaman yang menghambat pembelajaran bagi
banyak siswa. Apalagi, karena tingginya tingkat kegagalan yang ditemui dalam
kompetisi, hanya mereka yang mempunyai kesempatan untuk berhasil sajalah yang
termotivasi. Karenanya, kompetisi hanya tepat bagi sekelompok siswa terpilih
dalam satu kelas yang menunjukkan tingkat keterampilan dan kebugaran jasmani
yang sama serta memilih untuk membandingkan penampilannya dengan orang lain.
Beberapa studi malah menunjukkan bahwa aktivitas kompetitif membatasi
kesempatan belajar siswa.
Seperti juga
dilansir oleh beberapa pengamatan, keikutsertaan dalam aktivitas kompetisi
tradisional tidak memberikan kesempatan pada semua siswa untuk berlatih,
menguasai, dan memperhalus keterampilan yang diperlukan dalam partisipasi
mereka. Dengan kata lain, menggunakan aktivitas pendidikan jasmani format
kompetitif dapat menjadi penghalang pada pembelajaran siswa.
E.
Struktur Tujuan Individual
Program Penjas pun
terkadang menyandingkan struktur tujuan individual di dalamnya. Pembelajaran
untuk cabang atau jenis olahraga seperti senam, latihan kebugaran, senam
aerobik, atau renang, adalah beberapa contoh pembelajaran berformat individual.
Pada saat
pembelajaran individual, siswa biasanya tidak saling berhubungan dan tidak
saling menggantungkan diri dengan siswa lain. Ketidakbergantungan tersebut
didefinisikan sebagai tidak adanya hubungan kerja antara individu selama
berusaha mencapai tujuan pembelajarannya. Selama pembelajaran individual,
pencapaian tujuan dari seorang siswa tidak mempengaruhi pencapaian tujuan dari
siswa yang lain. Demikian juga sebaliknya, tidak adanya usaha pencapaian tujuan
dari seorang siswa tidak juga mempengaruhi ada atau tidak adanya usaha dari
siswa lain.
Saling
ketidakbergantungan demikian dapat diamati ketika seorang siswa sedang berusaha
melakukan sebanyak mungkin gerakan push ups dalam waktu 30 detik. Pencapaian
siswa tersebut tidak ada kaitannya dengan pencapaian atau tidak adanya
pencapaian dari siswa lain. Siswa bekerja atau berlatih sendiri; interaksi di
antara siswa tidak dipandang perlu atau didorong secara sengaja.
Pembelajaran
individual dalam pendidikan jasmani memang mempunyai benang sejarah yang cukup
panjang. Program penjas yang pada masa-masa awal perkembangannya banyak
menekankan pada latihan pribadi (individual) seperti pada senam, atletik, atau
keterampilan memainkan bola (meskipun pelaksanaannya dilakukan bersama-sama).
Program pendidikan gerak yang didasarkan pada teori gerak dari Rudolf Laban
merupakan kelanjutan dari pembelajaran individual. Analisis dari Locke tentang
individualisasi dalam penjas juga merupakan penguat dari pembelajaran
individual.
Keyakinan bahwa
usaha dan produktivitas hasil dari pembelajaran individual merupakan hal yang
baik sudah diterima secara umum. Hasil-hasil seperti di bawah ini umumnya
diyakini sebagai kelebihan dari pembelajaran individual:
- Pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan siswa,
- Memerlukan keterlibatan dari guru yang minimal,
- Pembelajaran individual meningkatkan pencapaian tujuan,
- Semua siswa mengalami keberhasilan,
- Pembelajaran individual menghilangkan persoalan sosial,
- Identitas dan karakter pribadi berkembang melalui kerja mandiri,
- Pembelajaran individual meningkatkan disiplin pribadi,
- Pembelajaran individual menghilangkan masalah kedisiplinan kelompok.
Namun demikian,
banyak juga para ahli yang meragukan bahwa pembelajaran individual benar-benar
efektif mengembangkan sifat-sifat di atas. Dari pengamatan, lebih banyak hal
kontradiktif dari hasil di atas yang dapat ditemukan.
Pembelajaran
individual, meskipun dipandang tepat untuk situasi tertentu, namun biasanya
tidak berhasil mencapai hasil-hasil di atas bagi umumnya siswa. Pembelajaran
individual tidak mendukung interaksi interpersonal yang positif di antara siswa
karena siswa tidak diharuskan untuk berinteraksi. Diragukan juga bahwa
pembelajaran individual dapat mengeliminir masalah sosial ketika siswa
dipisahkan dari kegiatan temannya, karena saling ejek, pelabelan stereotipe,
dan kecurigaan antar siswa tetap akan dapat berkembang.
F.
Struktur Tujuan Kooperatif
Suatu contoh dari
aktivitas penjas yang menggunakan struktur tujuan kooperatif adalah aktivitas
mengumpulkan skor secara kolektif, di mana semua skor atau penampilan
ditambahkan pada skor total dari kelompok. Ketika guru membangun struktur
pembelajaran secara kooperatif, “saling-ketergantungan positif” berkembang di
antara siswa. Pemahaman siswa bahwa mereka hanya dapat mencapai tujuan kalau
siswa yang lain juga mencapai tujuan merupakan definisi yang tepat dari
ketergantungan yang positif. Perasaan menjadi berada “pada sisi yang sama”
adalah hasil dari struktur tujuan kooperatif.
Contoh lain dari
‘saling-ketergantungan positif’ yang lain dalam aktivitas penjas adalah
permainan kelompok piramid kecil. Ketika guru menyajikan tugas untuk membangun
piramid (standen) oleh lima orang siswa bersamaan, maka semua akan terlibat
dalam keseimbangan dan saling mendukung, siswa secara positif saling tergantung
karena setiap siswa harus menyumbang dengan keseimbangan dan dukungan, atau,
kalau tidak, mereka tidak akan mencapai tujuan sama sekali. Guru yang mengajar
dengan pembelajaran kooperatif akan banyak melihat perilaku-perilaku seperti
ini: empati, memperhatikan, menolong, menyemangati, mengajar, membantu,
mendengarkan, dsb. Dan guru memang harus mengharapkan tumbuhnya manfaat-manfaat
demikian pada siswa melalui keikutsertaannya dalam penjas.
G. Kelebihan dan Kelemahan
Kelebihan Pembelajaran Kooperatif
1. Dapat melibatkan siswa secara aktif dalam
mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilannya dalam suasana belajar
mengajar yang bersifat terbuka dan demokratis.
2. Dapat mengembangkan aktualisasi berbagai potensi diri
yang telah dimiliki oleh siswa.
3. Dapat mengembangkan dan melatih berbagai sikap, nilai,
dan keterampilan-keterampilan sosial untuk diterapkan dalam kehidupan di
masyarakat.
4. siswa tidak hanya sebagai obyek belajar melainkan juga
sebagai subyek belajar karena siswa dapat menjadi tutor sebaya bagi siswa
lainnya.
5. siswa dilatih untuk bekerjasama, karena bukan materi
saja yang dipelajari tetapi juga tuntutan untuk mengembangkan potensi dirinya secara
optimal bagi kesuksesan kelompoknya.
6.
Memberi kesempatan kepada siswa
untuk belajar memperoleh dan memahami pengetahuan yang dibutuhkan secara
langsung, sehingga apa yang dipelajarinya lebih bermakna bagi dirinya.
Kelemahan penerapan model pembelajaran kooperatif
dalam suatu pembelajaran di sekolah yaitu:
a) Bisa menjadi tempat
mengobrol atau gosip
Kelemahan yang senantiasa
terjadi dalam belajar kelompok adalah dapat menjadi tempat mengobrol. Hal
ini terjadi jika anggota kelompok tidak mempunyai kedisiplinan dalam belajar,
seperti datang terlambat, mengobrol atau bergosip membuat waktu berlalu begitu
saja sehingga tujuan untuk belajar menjadi sia-sia.
b) Sering terjadi debat sepele
di dalam kelompok
Debat sepele ini sering terjadi
di dalam kelompok. Debat sepele ini sering berkepanjangan sehingga membuang
waktu percuma. Untuk itu, dalam belajar kelompok harus dibuatkan agenda acara.
Misalnya, 25 menit mendiskusikan bab tertentu, dan 10 menit mendiskusikan
bab lainnya. Dengan agenda acara ini, maka belajar akan terarah dan tidak
terpancing untuk berdebat hal-hal sepele.
c) Bisa terjadi kesalahan kelompok
Jika ada satu anggota kelompok menjelaskan suatu
konsep dan yang lain percaya sepenuhnya konsep itu, dan ternyata konsep itu
salah, maka semua anggota kelompok berbuat salah. Untuk menghindarinya, setiap
anggota kelompok harus sudah mereview sebelumnya. Kalau membicarakan hal baru
dan anggota kelompok lain belum mengetahui, cari konfirmasi dalam buku untuk
pendalaman.
Daftar Pustaka
Sugiyono.
2010. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung:
Alfabeta.
Rachman, Hari Amirullah. 2007. Model Pembelajaran Inovatif (Pendidikan Jasmani). Bahan Diklat Profesi Guru Sertifikasi Guru Rayon 11 Diy & Jateng UNY
RSS Feed
Twitter
21.16
Unknown
0 komentar:
Posting Komentar